Memulai Langkah Baru dari Rumah

Empat jam lalu saya masih di Jombang, meninggalkan pekerjaan dan teman-teman disana. Sekarang mobil travel yang saya naiki sudah memasuki Kota Malang. Sepertinya tinggal satu jam lagi saya akan tiba di rumah.

Saya hanya punya waktu tiga hari di Malang, sebelum nantinya pergi ke Magetan untuk belajar di Pondok Sintesa. Tiga hari itu harus saya gunakan sepenuhnya untuk keluarga. Semakin dekat dengan rumah, semakin rindu yang saya rasakan.

Home Sweet Home

s.hswstatic.com
s.hswstatic.com

Akhirnya sekitar jam 11 siang sampai juga saya di rumah. Di teras rumah ibu sedang menyapu, saat melihat saya beliau langsung menghampiri dan memeluk saya. Tak terasa sudah  hampir sebulan saya tidak pulang ke rumah.

Ibu langsung mengajak saya ke meja makan. Disana sudah terhidang empek-empek buatan ibu. Tanpa berlama-lama saya langsung mengambil nasi dan mulai makan masakan ibu. Rasanya enak sekali sampai saya menambah dua kali.

Setelah selesai makan, ibu kemudian menyajikan es krim buatan ayah. Segar sekali es krim rasa oreo ini, lebih enak dari es krim yang pernah saya beli di minimarket. Ternyata benar, jika anak kos pulang ke rumah pasti mengalami perbaikan gizi.

Salah satu faktor yang membuat saya betah di rumah adalah makanannya. Ibu pintar memasak masakan utama, sedangkan ayah saya suka membuat jajanan, seperti terang bulan, donat, es krim, dll. Makanya saya jarang sekali makan di luar rumah jika di Malang.

Melihat saya sudah membereskan piring bekas makanan, ibu baru mengutarakan kekhawatirannya melihat saya yang makin kurus. Karena memang dibanding sebulan lalu berat saya turun 2 kg, jika dibandingkan tiga bulan lalu berat saya sudah turun 10 kg.

Saya menenangkan ibu dan menunjukkan bahwa saya malah jadi lebih sehat dan segar setelah berat badan turun. Selama sejam lebih kami bertukar cerita, setelah itu saya ijin untuk tidur karena mengantuk sekali.

Demam Pokemon Go Melanda Rumah

cdn.uploadvr.com
cdn.uploadvr.com

Sorenya ayah saya baru pulang dari tempat kerjanya. Ketika saya menghampiri beliau, ayah saya dengan bangga menunjukkan handphonenya kepada saya. Ternyata beliau sedang membuka game Pokemon Go di handphonenya.

Saya kaget karena beliau sudah level 7 dan sudah menangkap banyak Pokemon. Saya saja masih level 5 dalam permainan tersebut. Dengan semangat ayah menceritakan bagaiamana dia meluangkan waktunya saat liburan untuk menangkap Pokemon.

Ibu mengajukan protes karena beberapa kali ibu yang membonceng ayah saat pergi berdua. Karena saat itu ayah sedang konsentrasi mencari Pokemon. Jadi ketika ada Pokemon muncul, ayah akan menyuruh ibu berhenti sebentar. Saya tertawa terbahak-bahak mendengar cerita mereka.

Membeli Keperluan yang Dibutuhkan

whatexpertsthink.com
whatexpertsthink.com

Keesokan harinya ayah dan saya berkeliling untuk membeli keperluan yang belum saya miliki. Kami ke Embong Arab untuk mencari Al-Qur’an dengan format Madinah dan kopiah. Setelah itu ke Pasar Besar untuk mencari beberapa celana olahraga.

Sorenya kami mencari laptop second. Setelah mendatangi beberapa toko Komputer, akhirnya pilihan kami jatuh pada Lenovo G40. Sampai rumah saya langsung menginstall program-program yang sekiranya diperlukan dan memindah beberapa data dari Komputer.

Menuju Terminal untuk Menjemput Adik

watergius.files.wordpress.com
watergius.files.wordpress.com

Jam 9 malam adik saya mengabari bahwa dia sebentar lagi sudah tiba di Terminal Arjosari. Saya bergegas menjemputnya. Di perjalanan adik saya menggerutu karena di perjalanan tadi macet sekali sehingga perlu waktu lebih dari 12 jam untuk sampai ke Malang dari Jogjakarta.

Di tengah kesibukan skripsinya, adik saya menyempatkan pulang ke Malang. Dia pulang karena beberapa hari yang lalu saya mengabari bahwa saya akan ke Malang sebentar, sebelum nantinya ke Magetan selama setahun.

Berpamitan ke Bapak

s212.photobucket.com
s212.photobucket.com

Selasa pagi saya dan adik pergi ke rumah bapak (ayah kandung saya) untuk berpamitan sekaligus menjenguk beliau yang baru keluar dari rumah sakit karena usus buntu. 30 menit waktu yang kami butuhkan untuk sampai ke rumah bapak.

Sampai sana kami langsung menanyakan kabar bapak. Alhamdulillah kondisi beliau sudah membaik walaupun masih kelihatan sedikit lesu.  Saya dan Adik menyarankan agar bapak tidak terlalu memforsir diri saat bekerja untuk menghindari kecapekan.

Setelah itu saya bercerita lebih detail tentang sintesa karena bapak tertarik dengan konsep pondoknya. Istrinya bapak menyiapkan kue tart sebagai bentuk syukuran karena bapak baru sembuh dari sakitnya. Sebelum memakan kuenya kami foto bersama.

Setelah dhuhur saya dan adik berpamitan kepada bapak dan istrinya. Mereka mendoakan agar saya sukses di Magetan, serta agar adik saya lancar skripsinya. Selain itu mereka meminta doa kami agar istrinya bapak diberi kesehatan selalu, karena kini beliau sudah hamil 7 bulan.

Menonton Suicide Squad

www.warnerbros.com
www.warnerbros.com

Saya, adik, ibu dan ayah pergi menonton Suicide Squad di bioskop Malang Plaza, kami mendapatkan tiket jam 20.00. Kami pergi menggunakan dua motor, saya bersama adik dan ayah bersama ibu. Jam 19.30 saya dan adik sudah tiba.

Sebelum naik ke bioskop, adik menraktir saya Sempol, jajanan lama yang sedang booming lagi di Malang. Sempol adalah pentol yang dililit kuning telur kemudian di goreng. Pantas saja jajanan ini laris, karena rasanya enak dan membawa nostalgia ke jaman kecil dahulu bagi sebagian orang.

Saya senang melihat Joker generasi baru yang diperankan Jaret Letto, tak lupa dengan akting memukau Margot Robbie yang memerankan Harley Quinn. Kami sekeluarga terhibur melihat film ini, walaupun mendapat skor yang jelek di beberapa situs review film.

Di perjalanan pulang kami melewati alun-alun kota yang indah karena susunan lampu-lampunya. Saya berjalan pelan-pelan untuk menghindari udara dingin malam itu. Selain itu agar saya bisa menikmati malam terakhir saya di kota Malang.

Meninggalkan Rumah

pixabay.com
pixabay.com

Barang-barang sudah selesai saya masukkan ke travel. Sebelum naik mobil, saya mencium tangan dan memeluk ibu dan ayah, tak lupa adik mencium tangan saya. Dari jendela mobil saya melambaikan tangan kepada mereka. Mobil pun melaju menuju Magetan.

Dari rumah saya mulai langkah baru. Memang berat rasanya meninggalkan kenyamanan rumah, namun ini pilihan yang saya ambil. Saya ingin belajar menjadi lebih baik dengan masuk Pondok Sintesa di Magetan.

Terimakasih untuk keluarga saya yang selalu mendukung pilihan saya. Saya akan bersungguh-sungguh belajar disini. Kelak pasti saya akan membalas kepercayaan yang kalian berikan.

Ibu, ayah, bapak, adik, saya mohon doanya ya. Saya pergi dulu.

Leave a Comment