Berhenti Kerja untuk Belajar Menjadi Lebih Baik (Part 1)

Hari ini saya mulai bekerja lagi setelah lima hari menikmati libur lebaran. Sambil menunggu konsumen saya membuka Facebook lewat handphone. Di beranda Facebook saya melihat postingan Pondok Sintesa yang sedang membuka pendaftaraan angkatan 4.

Di satu sisi saya bersemangat untuk mendaftar lagi, karena saat angkatan 3 saya pernah mendaftar walaupun gagal. Namun saya merasa segan karena saya bekerja di apotek baru dua bulan lamanya. Saya terus berdoa agar ditunjukkan jalan yang terbaik saat itu.

Mengambil Keputusan

www.juanminute.com
www.juanminute.com

Beberapa minggu kemudian, saat mengikuti pengajian rutin di rumah Pak Syu (pemilik tempat saya bekerja) beliau sedang membahas pentingnya belajar ilmu agama secara terus menerus tanpa mengenal usia. Ketika mendengar itu saya langsung yakin jika itu pertanda dari Allah SWT.

Selain itu, saya ingin seperti Pak Syu yang memiliki usaha sendiri dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Karyawannya diajak belajar agama lewat pengajian yang rutin diadakan tiap sore dirumahnya.

Maka sore itu saya yakin bahwa saya harus mendaftar di Sintesa. Malamnya saya menelepon ibu saya untuk meminta ijin mendaftar ke Pondok Sintesa lagi.

Merancang Tulisan

biographywritingservices.com
biographywritingservices.com

Tinggal seminggu sebelum deadline pendaftaran. Saya awali dengan membaca tulisan saya saat mendaftar di angkatan 3. Ternyata memang buruk sekali tulisannya dan memang alasan saya bergabung ke Sintesa tidak cukup kuat.

Akhirnya saya membuat tulisan baru dan menambahkan pengalaman yang saya dapatkan selama enam bulan ini. Selain itu saya lebih teliti memperhatikan susunan kalimatnya. Beberapakali saya tulis ulang sampai saya merasa puas.

Draft tulisan selesai pada sabtu malam tanggal 30 Juli. Hari minggu pagi, saya langsung ke warnet untuk mengetik tulisan yang sudah saya buat. Ternyata mengetik saja tidak cukup, setelah dibaca masih ada kalimat-kalimat yang menurut saya kurang benar atau kurang enak dibaca.

Saya pun harus memperbaiki lagi tulisan saya. Akhirnya jam 12 kurang, beberapa menit sebelum adzan dhuhur tulisan saya selesai diketik. Sebelum mengirim tulisan, saya mengucapkan Bismillah. Setelah menekan tombol submit perasaan saya menjadi lega.

Merindukan Tempat Kerja

wallpaperawesome.com
wallpaperawesome.com

Pengumuman masih empat hari lagi, namun saya merasa akan segera meninggalkan apotek tempat saya bekerja. Sehingga selama menunggu pengumuman saya sudah merasa rindu dengan apotek dan segala macam kegiatan yang ada di dalamnya.

Saat bekerja saya jadi lebih memperhatikan ekspresi teman-teman dan lebih menikmati saat berinteraksi dengan mereka. Saya berusaha agar tetap terlihat seperti biasa karena memang belum ada teman yang tahu saya mendaftar ke Pondok Sintesa.

Menulis Pidato Pengunduran Diri

i.huffpost.com
i.huffpost.com

Sepulang kerja saya menulis kata-kata pengunduran diri yang akan saya sampaikan kepada Pak Syu jika nanti diterima di Sintesa. Selain itu saya juga menulis pidato perpisahan yang akan saya sampaikan kepada teman-teman.

Setelah selesai menulis, saya berlatih pidato di kamar kos. Saya berlatih selama menunggu pengumuman dari Sintesa. Selain itu saya sudah merencanakan apa saja yang akan saya lakukan setelah pengumuman penerimaan di publikasikan. Entah kenapa saya begitu yakin akan diterima saat itu.

Dalam doa saya panjatkan, “Ya Allah, saya sudah mendapat ijin dari orangtua, saya juga sudah membuat pidato perpisahan, maka tolonglah saya agar diterima di Sintesa. Jika diterima, tolong lancarkanlah proses pengunduran diri saya sampai proses saya belajar di Sintesa. Aamiin…”

Telepon Mendebarkan

regmedia.co.uk
regmedia.co.uk

Tanggal 3 Agustus, siang hari setelah dhuhur saya ke kamar kos untuk beristirahat. Saat mau memejamkan mata ada telepon masuk dari nomor yang tidak dikenal. Saya pun segera mengangkatnya, terdengar suara pria dari seberang telepon.

Ternyata yang menelepon adalah panitia dari Sintesa. Saya langsung merasa grogi, apalagi saat itu saya disuruh mengaji melalui telepon. Panitia kemudian memberitahu bahwa mereka akan menelepon orangtua saya dan mengingatkan saya kalau besok adalah waktu pengumuman.

Beberapa menit kemudian ibu menelepon saya. Beliau menceritakan bahwa pihak Sintesa menelepon untuk menanyakan apakah beliau merestui atau tidak jika anaknya belajar di Sintesa.

Sebelum menutup telepon ibu mendoakan agar saya mendapat yang terbaik. Beliau juga menasehati saya agar bagaimanapun hasilnya besok, harus diterima dengan lapang dada.

Tidak Bisa Tenang

everettandrew.com
everettandrew.com

Setelah hari-hari sebelumnya tenang, baru saat hari H pengumuman saya merasa luar biasa grogi. Muncul rasa takut jika saya gagal seperti 6 bulan lalu. Pagi harinya saya langsung mengecek Facebooknya Sintesa, mengingat pengumuman sebelumnya dipublikasikan pagi hari.

Belum ada pengumuman pagi itu, saya pun jadi tidak bisa konsentrasi saat bekerja. Beberapa kali saya mengecek Facebook Sintesa namun pengumuman tak kunjung ada. Baru di siang hari ada pemberitahuan dari Sintesa bahwa pengumuman santri yang diterima masih dikerjakan.

Pengumuman Calon Santri Baru

www.facebook.com/sintesa.play
www.facebook.com/sintesa.play

Setelah ashar saya kembali ke kos untuk persiapan mengaji rutin. Sebelum berangkat sekali lagi saya mengecek Facebook Sintesa. Saya terdiam beberapa saat ketika melihat posting yang berjudul “Pengumuman Calon Santri Baru” terpampang di halaman Facebook Sintesa.

Jantung berdegup kencang, lebih kencang dibandingkan saat pengumuman angkatan 3. Jari saya jadi begitu berat untuk mengklik pengumuman yang ada. Akhirnya setelah mengucap Bismillah baru saya berani mengklik postingan tersebut.

Bersambung…

Leave a Comment