8 Jenis Konsumen di Apotek

Saya pernah bekerja sebagai karyawan apotek yang bertugas melayani konsumen. Saya dan konsumen hanya dibatasi oleh etalase kaca yang berisi obat-obat yang biasa muncul di televisi. Jika konsumen membutuhkan obat generik maupun paten maka saya pergi menuju ruang obat untuk mengambilnya.

Tidak semua nama dan kegunaan obat saya hafal. Maka dari itu penting sekali untuk selalu berkomunikasi dengan apoteker, agar obat yang saya berikan kepada konsumen tepat. Selain itu saya juga bertugas menyerahkan resep dari pasien, kepada apoteker untuk dikerjakan.

Tiap harinya saya menghadapi puluhan konsumen. Tentu sikap, cara bicara, dan tindakan konsumen saat membeli obat berbeda-beda. Dari pengalaman saya, terdapat delapan jenis konsumen secara umum, yaitu:

Konsumen Idaman

thedallastandard.com
thedallastandard.com

Konsumen jenis pertama ini ketika membeli obat, selalu membawa kemasan obat yang akan dibelinya atau sudah membuat catatan obat apa saja yang akan dibeli. Sehingga saya dengan cepat dapat menemukan obat yang mereka butuhkan di rak obat maupun etalase obat.

Sikapnya ramah ketika berbicara dan sabar dalam menunggu giliran. Tak lupa mereka selalu mengucapkan terima kasih setelah menerima obat yang mereka beli. Melayani konsumen jenis ini tentu membuat saya lebih bersemangat dalam bekerja.

Konsumen yang Tidak Sabar

flickr.com
flickr.com

Konsumen jenis kedua ini sering saya temukan saat mereka menebus resep. Mereka ingin agar obatnya secepat mungkin selesai diracik. Padahal proses meracik obat terutama membuat puyer perlu ketelitian sehingga memakan waktu yang cukup banyak.

Saya: Silahkan duduk dulu bu, resepnya sedang dikerjakan.

Konsumen: Berapa lama mas?

Saya: Kira-kira 30 menit bu, karena obatnya puyer jadi perlu waktu untuk meraciknya.

Konsumen: (Duduk)

10 menit kemudian

Konsumen: (Berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke arah saya), Kok lama ya mas?” (volume suara mulai keras)

Saya: Iya ibu, sekarang baru 10 menit jadi ditunggu dulu ya (sambil tersenyum).

15 menit kemudian

Konsumen: Obatnya belum selesai juga mas? (volume suara lebih keras)

Saya: Belum ibu, apoteker kami sedang mengerjakannya (tetap tersenyum).

25 menit kemudian

Konsumen: Lama banget mas obatnya, tahu gitu saya tinggal dulu tadi. (volume suara makin keras disertai wajah yang ketus)

Saya: Iya bu sebentar lagi selesai, saya minta maaf kalau obatnya lama (sambil tetap tersenyum).

Konsumen yang Lupa Nama Obatnya

pixabay.com
pixabay.com

Lupa mau membeli obat yang mana, biasa terjadi terutama pada konsumen yang sudah berusia lanjut. Konsumen jenis ketiga ini terjadi karena mereka lupa menulis daftar obat yang ingin dibeli atau tidak membawa kemasan obat yang akan dibeli. Tentu hal seperti ini cukup membuat saya repot.

Saya: Mau beli apa pak?

Konsumen: Aduh saya lupa mas, pokoknya bungkus obatnya ada warna ungunya nya, buat kolesterol.                             Saya dulu juga belinya disini mas.

Saya: Baik pak tunggu sebentar ya. (Mengambil semua obat untuk kolesterol yang ada warna ungunya di rak obat). Ini semua yang kami punya pak, bapak tempo hari beli yang mana?

Konsumen: (melihat dengan seksama) Bukan ini semua mas. Ada lagi yang lain mas?

Saya: Iya sebentar saya ambilkan yang lain. (Bergegas ke apoteker, untuk bertanya alternatif obat yang lain).

Oleh apoteker disarankan memberi obat kolesterol yang kemasannya berwarna biru.

Saya: Ini pak obat kolesterol selain yang kemasannya berwarna ungu.

Konsumen: Nah ini yang saya maksud mas, makanya saya kan sudah bilang kalau dulu saya beli obatnya disini.

Saya: Maaf pak, berarti saya yang kurang teliti, silahkan ke kasir untuk membayar obatnya (sambil tetap tersenyum).

Konsumen yang Baru Ingat Mau Membeli Obat Apa Ketika di Apotek

reimaginework.com
reimaginework.com

Konsumen jenis keempat ini sering membeli lebih dari yang mereka rencanakan, karena baru ingat mau membeli obat apa saat berada di apotek. Hal yang menjadi masalah adalah mereka tidak membeli sekaligus, sehingga saya jadi mondar-mandir untuk mengambilkan obat yang mereka inginkan.

Konsumen: Mas ada Panadol dua strip?

Saya: Ada bu. Mau beli apalagi?

Konsumen: Sudah itu saja.

Saya: Baik bu, total Rp 16.000 ribu, silahkan bayar di kasir.

Konsumen: Oh iya mas, sama beli Asam Mefenamatnya dua strip juga.

Saya: Baik bu, ditambah apalagi?

Konsumen: Sudah cukup mas.

Saya: (Mengambil asam mefenamat di ruang obat) Ditambah asam mefenamatnya Rp 4.000 totalnya jadi…

Konsumen: Tambah yakult satu pack ya mas?

Saya: Sama apalagi bu, biar sekalian saya ambil.

Konsumen: Kayaknya cukup itu aja.

Saya: (Pergi ke kulkas mengambil yakult) Jadi total nya semua…

Konsumen: Oh iya, tambah Tolak Angin nya 5 sachet mas, saya baru ingat suami saya sedang masuk angin.

Saya: I..iya bu.

Konsumen yang Suka Mengajak Berbicara

pexels.com
pexels.com

Konsumen jenis kelima ini sangat ramah, biasanya sudah berusia lanjut sehingga banyak pengalamannya yang dia ceritakan. Selain itu biasanya konsumen yang suka mengajak saya berbicara panjang lebar adalah mereka yang berasal dari daerah yang sama dengan saya.

Konsumen: Beli vitacimin nya lima strip mas.

Saya: Ini vitaciminnya lima strip pak.

Konsumen: Baru ya mas? Saya baru melihat mas nya sekarang.

Saya: Iya pak, baru dua minggu saya disini.

Konsumen: Asli sini mas?

Saya: Saya asli Malang pak.

Konsumen: Lho, saya Malang juga mas tetapi sudah lama disini. Malangnya mana mas?

Sampai lebih dari 20 menit kami masih mengobrol.

Konsumen yang Kebigungan

pixabay.com
pixabay.com

Konsumen jenis keenam ini sering terjadi saat membeli barang-barang yang memiliki banyak ukuran seperti minyak kayu putih, botol susu, salep pegal linu, dll. Mereka ragu dalam memutuskan ukuran mana yang mau dibeli sehingga perlu bantuan orang lain untuk meyakinkan mereka.

Konsumen: Mas, beli minyak telon nya yang tanggung.

Saya: Yang ini bu? (Sambil menunjukkan minyak telon).

Konsumen: Wah kebesaran mas, yang dibawahnya lagi.

Saya: Yang ini bu? (Sambil menunjukkan minya telon yang lebih kecil).

Konsumen: Masih kebesaran kayaknya mas.

Saya: Ini ada lagi dibawahnya, tapi ukurannya paling kecil (sambil menunjukkan botol yang paling kecil).

Konsumen: Iya ya, kalau yang ini kekecilan.

Suami Konsumen: Udah, yang pertama tadi aja ma.

Konsumen: Iya udah deh pa. Mas, saya beli yang pertama tadi aja.

Konsumen yang Berbisik

news.psu.edu
news.psu.edu

Konsumen jenis ketujuh ini biasanya berjalan perlahan ke arah saya sambil sedikit menengok ke kiri dan kanan. Mereka menyebut nama obat yang ingin mereka beli dengan pelan sekali. Sering kali saya meminta mereka untuk mengulang apa yang mereka katakan.

Konsumen: Mas, ada obat biar tahan lama? (suaranya pelan sekali).

Saya: Maaf mas bisa diulangi? saya tidak dengar.

Konsumen: Ada obat biar tahan lama? (menaikkan volume suaranya sedikit).

Saya: Apa mas?

Konsumen: (Menoleh ke kiri dan kanan) Ada obat biar tahan lama? (volume suara lebih besar dan jelas).

Saya: Ooo.. Ada mas, mau yang merk apa?

Konsumen yang Salah Tempat

media.licdn.com
media.licdn.com

Konsumen jenis terakhir atau kedelapan, sangat jarang saya temukan karena memang langka. Konsumen jenis ini tidak jelas bagaimana motifnya hingga bisa sampai ke apotek. Mereka datang dengan penuh keyakinan dan pergi dari apotek tanpa rasa bersalah.

Saya: Mau beli obat apa Pak?

Konsumen: Ada materai mas?

Saya: Apa pak?

Konsumen: Saya cari materai mas.

Saya: …… (hening), maaf pak disini tidak menjual materai.

Konsumen: Oke (pergi tanpa rasa bersalah).

Itulah delapan jenis konsumen di apotek yang pernah saya temukan. Bagaimanapun jenis konsumennya, saya selalu berusaha memberikan pelayanan yang terbaik kepada mereka. Tidak lupa saya mendoakan agar para konsumen diberi kesembuhan dan kembali sehat seperti sedia kala.

 

 

 

 

 

Leave a Comment